Selasa, 06 Desember 2011

Mengapa Dunia Pernah Dilanda Kiamat?

Peradaban manusia di atas dunia pernah musnah oleh karena "kiamat", berbagai macam bencana, termasuk gempa bumi, banjir, benda angkasa dari luar (termasuk benturan meteor dan komet), timbul tenggelamnya lempeng daratan, perubahan iklim yang mendadak dan sebagainya. Bencana dahsyat telah melenyapkan peradaban dan sejumlah besar makhluk hidup menjadi punah waktu itu, hanya menyisakan sangat sedikit peninggalan sejarah yang masih ada. Manusia-manusia prasejarah yang berbeda dan peradaban yang dimiliki akhirnya telah lenyap dari atas bumi. Peradaban tersebut mengapa tersingkirkan? Kita dapat menemukan beberapa petunjuk melalui gejala sosial dan dalam uraian orang-orang mahabijak.

Bencana alam dan penyakit dalam skala besar merupakan sebab-musabab langsung yang mengakibatkan musnahnya peradaban manusia prasejarah, namun mengapa bisa timbul penyakit dan bencana alam yang mematikan secara besar-besaran? Pemahaman yang ada sekarang dari orang-orang tidak dapat menjelaskannya, dan mau tidak mau mereka dikembalikan sebagai gejala alam. Gejala alam merupakan kesimpulan pasif yang diambil orang-orang terhadap perubahan geologis dan astronomis yang tidak dapat dijelaskan. Dipandang dari arti tertentu, ini merupakan suatu purbasangka yang terpaksa.

Demi prakiraan dan mencegah berbagai macam bencana, manusia sekarang (juga manusia prasejarah dulu) telah melakukan penelitian jangka panjang terhadap berbagai macam bencana, mengemukakan beberapa teori, namun kebanyakan ditekankan pada prakiraan bencana dan sisi perlawanannya, menciptakan serangkaian peralatan dan berbagai cara, misalnya ramalan angin topan, memantau gunung berapi, banjir dan sebagainya. Dalam menghadapi bencana alam, orang-orang juga telah menggunakan berbagai macam cara, misalnya membangun apartemen antigempa, mengontrol tanggul, waduk, memperbaiki sungai, fasilitas pertolongan bencana darurat dan lain-lain. Kebijakan-kebijakan yang sebagian besar tergolong pasif ini memiliki efektivitas yang pasti terhadap bencana kecil, dapat mengurangi korban jiwa. Namun, dalam skala yang lebih besar, di hadapan bencana yang menghancurkan, misalnya mendadak daratan menurun, banjir dahsyat yang menenggelamkan, benturan benda angkasa luar, perubahan iklim yang mendadak, dan kekuatan manusia tampaknya sangat lemah, sulit untuk menghindar, hanya bisa menerima apa adanya.

Demi untuk mengobati penyakit, manusia telah mengembangkan sejumlah besar cara dan instrumen kedokteran yang kelihatannya canggih. Namun, manusia sekarang semuanya harus mengakui, bahwa semua cara pengobatan ada keterbatasannya. Lagi pula penyakit yang baru muncul dengan tiada henti membuat manusia sulit untuk mengatasinya. Di hadapan wabah penyakit menular yang muncul mendadak secara luas, sama sekali tidak berdaya. Tidak bisa membuat obat yang manjur untuk mengatasinya.


Spoiler for Sebenarnya, apakah sebab-musabab pokok yang mengakibatkan munculnya malapetaka?

Pertama, dari pemahaman tingkat rendah, orang-orang telah mengetahui bahwa segala perkembangan hal ihwal memiliki periode dan hukumnya. Manusia ada lahir, tua, sakit, dan mati: Perkembangan masyarakat ada periodenya, perkembangan umat manusia kemungkinan juga: Hal yang sama, berarti peradaban manusia kemungkinan juga bisa mengalami perkembangan sampai peradaban tertinggi, bertahan, rusak hingga lenyap dalam sebuah proses berkala yang berputar berulang-ulang.

Kedua
, kini orang-orang telah mengetahui, bahwa manusia kelewat batas menuntut pada alam sehingga mencemari bumi, mengakibatkan lingkungan hidup manusia menjadi buruk. Mengeksploitasi terlalu banyak air bawah tanah bisa mengakibatkan permukaan bumi tenggelam, menebang hutan secara berlebihan bisa mengakibatkan erosi tanah, oasis berubah menjadi gurun pasir, pembuangan gas kotor dan air limbah dalam jumlah besar mengakibatkan parahnya polusi udara serta mutu air dan sebagainya, bersamaan dengan majunya teknologi manusia, ruang hidup manusia malah sedang menyusut, lingkungan ekologi terus memburuk, telah mencapai pada tahap yang bahaya. Ini adalah sebuah proses yang lambat, ia dapat menimbulkan bencana lokal, juga dapat menimbulkan bencana besar.

Ketiga, memahami dari tingkat yang lebih tinggi, "alamiah" adalah tidak eksis, namun bencana alam juga ada sebabnya. Namun, bukan karena manusia telah memiliki peradaban tinggi lalu musnah. Mungkin ia adalah suatu akibat yang tak terlelakkan, dan bencana alam hanya tercermin dalam masyarakat manusia kita ini. Manusia sama sekali bukan berasal dari evolusi kera, jiwa manusia yang sebenarnya terjadi di alam semesta. Alam semesta telah menciptakan kehidupan, sekaligus menetapkan kehidupan (termasuk manusia) sesuai dengan standar sebagai manusia. Apabila moralitas manusia telah menjadi bobrok dan hanya memikirkan dirinya sendiri, alam juga akan menunjukkan tanda-tandanya.

Pada zaman dahulu, tingkat moralitas manusia secara umum sangat tinggi, waktu itu tidak ada hukum apa pun, yang ada hanya sebuah hukum kerajaan, apa yang dikatakan dan diperbuat manusia semuanya diukur dengan moralitas, sedangkan hukum kerajaan pada dasarnya adalah sebuah hukum yang bagaimana semestinya menjatuhkan hukuman pada semua individu yang melanggar moral tersebut, dan bagaimana seyogianya memberikan penghargaan jika telah mempertahankan moral. Dulu pejabat kabupaten yang memutuskan perkara itu sangat sederhana, yaitu menggunakan moralitas sebagai kriteria untuk memutuskan perkara, memutuskan benar atau salah, kemudian memberikan penghargaan atau hukuman. Jelas, masa luhurnya moralitas manusia, hukum adalah eksis untuk melindungi moral (prinsip langit). Maka, orang yang bijaksana pada zaman dahulu sangat percaya akan prinsip "Tuhan memberi kekuasaan kepada pemimpin", bila pemimpin melanggar prinsip langit, kekuasaan pemimpin juga akan ikut jatuh.

TRIK Deddy Corbuzier DIANALISA WARTAWAN

Selama satu bulan terakhir, Indonesia dihebohkan dengan beragam prediksi siapa juara Piala Dunia 2010. Paul si Gurita menggemparkan dunia dengan ramalannya yang terbukti 100 persen akurat. Di Indonesia ada Deddy Corbuzier, mentalis ternama yang memasukkan prediksinya ke dalam sebuah kotak yang telah dibuka usai pertandingan final tadi.

Deddy kemudian memberikan sebuah kode NC1253HZ6 melalui akunnya di Twitter, sebagai petunjuk atau kunci atas teka-teki siapa juara di Afrika Selatan. Tak sedikit di antara netter Indonesia yang berupaya membongkar apa yang tersembunyi di balik kode tersebut. Salah satu versi terlaris dibuat oleh seorang anggota komunitas Kaskus:

N = North = Utara yang berarti letak negara di utara.
C = Christianity = negara dengan mayoritas penduduk beragama Nasrani.
1253 = angka yg menunjukkan letak negaranya. Karena letaknya di utara, disesuaikan dengan letaknya menurut garis lintang utara = 52°-31° lintang utara.
H = Horst Köhler yang merupakan presiden resmi terakhir yang dipilih melalui pemilu.
Z = Zurücktreten = yang berarti mengundurkan diri.
6 = enam tahun.

Rincian di atas menunjukkan Jerman bakal juara, karena letak negaranya di utara, 52°-31° lintang utara, 63% penduduk Jerman adalah Kristen, Horst Köhler dilantik tanggal 1 Juli 2004 pada pemilu 23 Mei 2009 dan terpilih kembali menjadi presiden, kemudian mengundurkan diri setelah menjabat presiden selama hampir enam tahun pada tanggal 31 Mei 2010. Namun pada pertandingan semi-final Jerman tersingkir, sehingga berbagai macam versi lainnya merebak.

Akhirnya apa yang dimaksud dengan kode NC1253HZ6 terungkap tadi pagi, usai kemenangan Spanyol atas Belanda di final Piala Dunia 2010. Deddy tampil secara langsung di layar televisi dengan upacara pembukaan kotak. Terdapat selembar kertas di dalamnya dengan tulisan skor "Belanda 0-2 Spanyol", tapi angka 2 dalam keadaan tercoret, digantikan oleh angka 1. Selanjutnya, Deddy membeberkan arti NC1253HZ6. Ia membuka papan yang terlipat dua: sisi terdepan menunjukkan "NC1253HZ6", kemudian ia membalikkan sisi lainnya yang tertulis "www.youtube.com/". Ternyata NC1253HZ6 adalah sebuah kanal di YouTube!

Di kanal itu, terdapat video Deddy yang mengatakan: "Sekarang tanggal 16 dinihari, dan saya memprediksikan negara yang akan memenangkan FIFA World Cup 2010...adalah Spanyol. Sekali lagi negara yang akan memenangkan FIFA World Cup 2010 adalah Spanyol, dan video ini akan saya upload ke YouTube secepatnya setelah rekaman ini selesai saya buat."

Dan benar, Deddy secepatnya mengunggah video tersebut, sehingga tercantum 17 Juni 2010 sebagai tanggal naiknya video.

Mari kita tinjau video NC1253HZ6 ini secara tuntas. Perhatikan:

1. Halaman http://www.youtube.com/NC1253HZ6 adalah sebuah kanal (atau channel) di YouTube.
2. NC1253HZ6 adalah nama pengguna (user), dan bukan tautan atau sebuah link utama video.
3. Tautan video yang sebenarnya adalah
http://www.youtube.com/watch?v=6WYnOQyWQe4
4. Hanya ada satu video di dalam kanal NC1253HZ6. Judul videonya sendiri adalah NC1253HZ6.

Empat poin di atas menimbulkan kecurigaan, karena:

1. Kalau Deddy ingin memberikan sebuah clue, seharusnya yang diberikan adalah 6WYnOQyWQe4, bukan NC1253HZ6. Otomatis, pemberian NC1253HZ6 adalah sebuah penipuan.
2. Di dalam video ini, skornya tidak disebutkan. Otomatis, isi kotak dengan tulisan "Belanda 0-2 1 Spanyol" patut dipertanyakan. Kalau memang yakin, sudah selazimnya Deddy menyebutkan skor di dalam video ini.
3. Tanggal upload video bisa diubah.
4. Sebuah kanal bisa menampung jumlah video sebanyak-banyaknya dan bisa dihapus di kemudian hari.
5. Setiap kanal terdiri dari "Recent Activity" atau catatan aktivitas terbaru yang bisa dihapus.
6. Semua video yang diunggah si pengguna bisa diatur supaya tidak terlihat oleh umum. Terdapat tiga pilihan penyiaran:
* Public (umum): Semua orang bisa melihat videonya.
* Unlisted (tidak terdaftar): Hanya orang yang mempunyai link yang bisa melihat videonya.
* Private (pribadi): Maksimal 25 orang yang bisa melihat videonya, dan orang-orang yang mendapatkan akses ditentukan oleh user sendiri.

Selasa, 21 Juni 2011

Coldplay vs Radiohead

Britrock – beberapa menyebutnya britpop – barangkali hanyalah salah satu fenomena dalam dunia musik, entah di Inggris maupun di dunia. Tidak begitu jelas dari mana sebenarnya asal muasal aliran ini. Sama seperti berbagai jenis musik yang lain, aliran ini muncul sebagai akibat pengaruh banyak jenis musik. Britrock mengambil berbagai elemen – terutama dari musik rock – yang banyak mendominasi di Inggris, dari psychelic rock, hard rock, blues, jazz, third wave, bahkan punk. Boleh dibilang, aliran ini merupakan “alternative rock” asli Inggris, berpadanan dengan aliran grunge di Amerika
Sebagai aliran, britrock muncul pada era ketika teknologi komputer sedang naik daun dan kejenuhan atas perang dingin sedang memuncak. Pada waktu itu, katakanlah awal 1990-an, musik di Inggris didominasi oleh semacam ”gerakan retro” yang mencoba menggali tradisi rock asli Inggris ke dalam dapur rekaman. Jika ditanya, mereka sering menyebut nama-nama ”dinosaurus rock” sebagai patron atau kiblat, seperti Pink Floyd, Led Zeppelin, Beatles, Rolling Stones, Cream, King Crimson, Genesis, Yes, U2, dan sebagainya.
Ada beberapa nama band yang patut disebut sebagai pengusung aliran britrock ini, seperti Oasis, Blur, Suede, Travis, dan Radiohead. Menjelang tahun 2000-an, muncul nama seperti Coldplay dan pada masa-masa selanjutnya muncul Muse dan Artic Monkeys.
Apa yang dapat diceritakan mengenai band-band itu? Barangkali ini: ada 2 nama yang ternyata masih “nyangkut” dalam ajang penganugerahan Grammy Award 2009 yang digelar pada 8 Februari 2009 yang lalu. Kedua nama itu adalah Radiohead – yang boleh dibilang sudah out of date dari segi “umur” – dan Coldplay – yang boleh dibilang sedang berada di puncak (atau justru sedang mulai memasuki siklus “menurun”?)
Ada yang sedikit luput dari perhatian peminat music rock umumnya dan musik britrock pada khususnya dari ajang penganugerahan Grammy Award 2009 tersebut. Dua raksasa Inggris tersebut – Coldplay dan Radiohead – sama-sama mendapat nominasi yang cukup banyak berdasarkan penilaian pada album terbaru mereka masing-masing: Viva la Vida or Death and All His Friends (Coldplay) dan In Rainbows (Radiohead). Coldplay mendapat nominasi untuk 7 kategori, sementara Radiohead mendapat nominasi untuk 4 kategori (sebenarnya, 4 kategori tidaklah terlalu banyak. Namun, untuk musisi “tua” sekelas Radiohead, jumlah itu termasuk banyak).
Di luar masalah kategorisasi yang agak rumit – dan sedikit banyak membingungkan orang awam (termasuk saya) – tentunya banyak hal lain yang menjadi pertimbangan. Tentunya, kita bisa bertanya-tanya: mengapa lagu “House of Cards” Radiohead bisa menjadi salah satu nominasi Best Rock Song (bersama dengan “Violet Hill” Coldplay), sementara album yang menjadi “rumah” bagi lagu tersebut – In Rainbows – justru tidak dinominasikan dalam kategori Best Rock Album (tetapi malah dinominasikan dalam Best Alternative Music Album)? Memang, hal-hal macam ini sering menjadi misteri yang hanya diketahui oleh para juri/panitia Grammy dan Tuhan sendiri.
Pada kategori di mana keduanya memperoleh nominasi bersama-sama, siapa yang akan unggul: Coldplay atau Radiohead? Mereka mendapatkan kategori yang sama pada kategori-kategori ini: Album of the Year (album baru dari masing-masing band), Best Rock Performance By A Duo Or Group With Vocals (“Violet Hill” untuk Coldplay dan “House of Cards” untuk Radiohead), dan Best Rock Song (“Violet Hill” untuk Coldplay dan “House of Cards” untuk Radiohead).
Apa kesan yang muncul ketika kita mendengar kedua album tersebut? Kesan pertama: In Rainbows-nya Radiohead memang tetap memperlihatkan watak asli band yang dikomandani Thom Yorke. Konsisten. Begitu lugas, tanpa tedeng aling-aling. Nomor-nomornya tidak begitu berbeda dengan album sebelum ini, “Hail to the Thief” – bahkan menurut saya, In Rainbows lebih depresif dan skizofrenik. Jika Hail to the Thief masih menyimpan nomor “lembut-reflektif” seperti “Sail to the Moon”, album baru ini seolah hampir tidak menyisakan lagi kesempatan para pendengar untuk sedikit mengambil napas.
Viva la Vida memang sangat eksperimental dan inovatif. Chris Martin mencoba beberapa bebunyian baru – termasuk organ gereja dalam nomor “Lost”, nomor yang cukup ngepop dalam album ini. Lirik-liriknya “sangat politis”, yang menyuarakan kejatuhan suatu imperium, kematian, dan bahkan perang. Gitar Jonny Buckland pun sangat menawan. Ia semakin “U2” dalam beberapa nomor – kita sebuat saja: semakin agresif.
Namun, secara keseluruhan, Viva tidak jauh beranjak dari sound yang selama ini dimainkan oleh Coldplay. Bebunyian musik mereka tetap muncul sebagai kombinasi nada-nada segar dan “pop” yang sangat kontras dengan apa yang dilakukan oleh Radiohead. Namun, bagi penikmat musik “rock” pada umumnya, Viva dan album-album Coldplay lainnya tetap merupakan wakil yang cukup representatif dan segar dari musik rock kontemporer.
Zaman sudah berubah. Kita memang tidak dapat lagi menikmati zaman-zaman ketika Led Zeppelin memainkan nomor-nomor indah yang merupakan paduan antara hard rock dan blues yang sangat kental.
Namun, apa yang terjadi pada Grammy Award 2009 kemarin? Siapa yang menang antara Coldplay versus Radiohead? Ternyata, keduanya tidak menang duel di mana mereka bertemu dalam satu kategori. Konyol. Grammy Award untuk kategori di mana mereka saling bertemu justru dimenangkan oleh artis/musisi lain. Tentu saja, mereka mendapat “jatah” Grammy masing-masing, namun tidak dalam kategori di mana mereka saling bertemu (Apakah kita boleh berpikir bahwa ini adalah hasil “ilmu sulap” panitia? Tentu spekulasi semacam itu bukanlah sesuatu yang diharamkan).
Coldplay meraih Grammy untuk 3 kategori: Song of The Year (Viva La Vida), Best Pop Performance by a Duo or Group with Vocals (Viva La Vida), dan Best Rock Album (Viva La Vida or Death and All His Friend). Sementara itu, Radiohead memperoleh 2 Grammy untuk Best Alternative Music Album (In Rainbows) dan Best Boxed Or Special Limited Edition Package (In Rainbows – Grammy ini sebenarnya diperuntukkan untuk para art director album tersebut ketimbang untuk Radiohead sendiri).
Panitia atau para juri Grammy tampaknya lebih merasa aman jika “memenangkan” kedua band di kategori-kategori di mana keduanya tidak berduel. Secara tidak langsung para juri Grammy mengakui bahwa keduanya “juara” di kategori yang berbeda.
Dari “pengakuan” ini – jika memang benar begitu – apakah ini harus ditafsirkan dari sudut yang 100% murni musik atau terkait dengan bisnis? Keduanya tampak sangat masuk akal. Secara musikal, Grammy tetap mengakui bahwa kedua pengusung britrock tetap mempunyai sesuatu – katakanlah kualitas – yang dapat ditawarkan kepada kuping-kuping penikmat musik rock pada umumnya, walau dengan 2 kategori berbeda: “rock murni” (untuk Coldplay) dan “alternative rock” (untuk Radiohead).
Panitia Grammy – boleh dibilang “para dewa” dalam bisnis musik – tidak ingin membunuh selera musik sebagian besar penggemar musik dunia. Ini pun berarti pengakuan bahwa aliran britrock masih kuat bercokol baik dalam bisnis musik maupun di dalam relung-relung telinga para penikmat musik. Britrock masih merupakan magnet atau semacam gaya bermusik bagi musisi-musisi dunia. Sementara itu, katakanlah Amerika, lebih banyak memproduksi musik yang lebih bersifat “trash metal” (entah model Metallica atau yang lain) atau berlabel “hip metal”, “nu metal” “atau juga “nu rock”.
Jika diamati, kedua band memang berhasil menggiring telinga penikmat musik rock. Radiodhead bermain di telinga para penikmat yang lebih menyukai cita rasa rock yang lebih “suram”, “muram”—kalau tak bisa dibilang: “keras”, sementara Coldplay menguasai telinga para penikmat musik rock yang lebih enjoy dengan bebunyian yang lebih soft atau fresh. Namun, “kekerasan” musikalitas Radiohead tidak bertumbuh menjadi semacam “metal” seperti yang dijual oleh band-band Amerika (Limp Bizkit, misalnya). Radiohead lebih dapat dilihat sebagai “Pink Floyd zaman internet”: sesuatu yang lebih enigmatik dan maskulin, tetapi tetap aman dimainkan di kamar-kamar tidur. Sementara itu, Coldplay memenuhi benak orang sebagai band “pop rock pasca perang dingin”. Ia tidak terkesan murahan, tetapi tetap jauh lebih “feminim” ketimbang Radiohead. Ia memainkan sesuatu yang rock, tetapi bukan Pink Floyd, apalagi Led Zeppelin. Ia semacam Beatles – kebetulan personilnya sama-sama berjumlah 4 orang – yang lahir kembali lewat mesin-mesin digital.
Pengakuan dari Grammy pun cukup penting dari segi bisnis. Coba lihat band-band Indonesia seperti Dewa19, Padi, Peterpan, Sheila on 7, Nidji, Ungu, Samsons. Orang lebih mudah mengasosiasikan band-band tersebut dengan semacam “band britrock” ketimbang band metal. Bayangkan jika ikon atau simbol dari band-band tersebut (baca: bisnis musik lokal, seperti di Indonesia) “dimatikan” dengan cara tidak dimenangkan dalam suatu ajang sekelas Grammy, apa yang terjadi? (Ini mungkin berlebihan. Jawabannya: mungkin tidak terjadi apa-apa. Indonesia punya aura, kultur, dan kuping tersendiri, yang berbeda dengan apa yang ada di Inggris dan Amerika).
Itu berarti, musik ala band-band Inggris (alias britrock) masih akan tetap laku diproduksi dan dijual di seluruh dunia (termasuk di Indonesia) karena ada pengakuan bahwa musik semacam itu masih di atas angin; inilah suatu pengakuan yang menggabungkan unsur yang murni musik dan unsur bisnis. Selain itu, kedua album dari dua band tersebut untuk pertama kalinya dirilis di luar label raksasa yang biasa memayungi karya-karya mereka selama ini: EMI. EMI memang raksasa. Kesukseskan mantan “anak asuh” EMI – di luar haribaan pelukan EMI – patut dirayakan oleh “musuh-musuh” mereka di Amerika. Itu adalah hukuman untuk EMI (“kompetitor dari Inggris”). Entah hal yang terakhir ini benar atau tidak.
Barangkali, di balik perang antara Coldplay dan Radiohead, kita juga bisa menyimpulkan bahwa pemenang di antara kedua band tersebut adalah: cita rasa seni yang murni dan tulus serta sedikit cita rasa dollar (?)…***
Daftar Lengkap Pemenang Grammy Award 2009

Kamis, 16 Juni 2011

The "Ngopi Show"...

.."(bsmillah)"
...PERTAMAX (wuih...)
......
udah hampir tiga taon ni ak ga pernah tidur malem.......dimulai dari kegiatanku Ngopi2 ma si bungkring waktu masi sma kelas dua... tiap habis magrib mpa jam 11 malemm...!!!.. (DON'T TRY AT HOME)..
....................sempe sekarang ak uda kuliah, tetep aja kaya gitu....
pulang ngopi masih sempat - sempatin nongkrong...nunggu rokok ditangan ni abis..(lum boleh ngerokok brad..haha).......slain ma si 'bungkring, ak duet juga ma si 'kuping'..... ngopi kalo ga ngerokok tuh kaya - makan ga pake lauk..nah kalo ngopi ga mpe tiga jam tu ibarat pake baju tapi ga pake celana...loh???....hehe
...
......ak pengen banget berubah.... kalo siang tu yang kufikirin "tar malem ga ngopi ah, duitnya wat bli pulsa" ...secara ga sadar, diluar akal sehat, tiap kedenger adzan maghrib tiba2 ak langsung siap - siap, dandan, pake minyak wangi, ngluarin motor lalu....berangkat..!!!!! hahah...

....ak pngen banget berubah..!!!!
rekan duetku si bungkring sekarang uda sukses kerja...
si kuping uda kerja jadi satpam...

......tinggal ak seorang diri yang mempertahankan budaya "ngopi" ini....
.....akankah kelak kuwariskan ma cucu - cucuku nanti...

..au ah...gelap..!!


Rabu, 15 Juni 2011

Tree Cool

*Tre pernah memakai susu yang langsung ia peras dari seekor anjing karena ia membutuhkan susu untuk kopinya, dan dirumah yang ia tempati tidak ada susu.
*Ayah Tre adalah seorang pilot helicopter Vietnam.
*Tre pernah menjadi ketua kelas saat SMA.
*Tre sangat mencintai permainan Golf.
*Tre hanya mempunya "biji testikel", ia kehilangan yang satunya saat ia sedang bersepeda dan terjatuh.
*Ayah Tre yang membangun rumah Lawrance Livemore.
*Tre pernah bertarung bersama ikan Hiu, dan ia memukul Hiu itu dengan stik baseball beberapa kali, dan akhirnya Hiu itu mati.
*Tre sangat mencintai sepatunya.
*Tre memakai kostum Benji madden (Good Charlotte) di haloween tahun 2004.
*Tre melakukan recording pertamannya denga "The Lookout!" saat umur 12 tahun.